deskripsi gambar

Ustad Polisi yang Viral Karena Jubah di Medsos ini Diganjar Penghargaan dari Kapolri

On Agustus 24, 2017 with No comments

Bripka Sardi
Ekposnews.com - Anggota Polres Tabalong Kalsel ini sempat viral dimedia sosial terkait penggunaan Gampol Jubah Polisi yang dikenakannya saat menjadi khutbah jumat, Sempat mendapat teguran pimpinan namun semua itu berbuah manis.

Dalam acara tatap  muka Kabaharkam Polri dengan pejabat Polda Kalsel dan Jajaran di hotel Golden Tulip Banjarmasin, Jumat (25/8), Komjen Pol. Drs. Putut Eko Bayuseno, S.H, menyerahkan penghargaan Kapolri kepada Bripka Sardi yang telah melaksanakan jumat keliling untuk mengisi khotbah dan menjadi imam sholat jumat di masjid – masjid.

Penghargaan ini juga diterima oleh 2 orang lainnya yaitu anggota Polres Kotabaru Aiptu Mujianto sebagai pejuang kemanusiaan dengan menciptakan gerakan Rp. 1000, – satu keluarga dan Bripka Sidiq Martujet, S.Sos dengan kepeduliannya terhadap permasalahan sosial dilingkungan tugasnya.
“Kita Apresiasi apa yang telah dilakukan 3 orang personel kita ini dalam meningkatkan cipta Polri yang menjadi lebih baik, ” ungkap Kabaharkam.
Sementara itu , Bripka Sardi menceritakan awal mula jubah yang menjadi viral itu,  Sekembali dari Sudan, dia ditugaskan di Polres Tabalong untuk menjadi anggota Bhabinkamtibmas. Kegiatannya sebagai anggota Bhabinkamtibmas memberikan penyuluhan mengenai kamtibmas hingga bersosialisasi dengan warga untuk mengetahui permasalahan di masyarakat lebih dini.


Khusus pada Ramadan yang baru berlalu, ia mengisinya dengan kegiatan dai Bhabinkamtibmas. Dia berceramah dari masjid ke masjid di desa-desa untuk menyampaikan pesan kamtibmas dalam rangka menjaga situasi tetap aman dan kondusif selama Ramadan.
Selama mengisi ceramah di mimbar masjid, Sardi mengenakan seragam polisi. Namun, suatu saat, seorang tokoh agama setempat memintanya mengenakan jubah ketika berceramah. Selain berceramah, Sardi sering diminta menjadi imam ketika salat berjemaah.


"Awalnya, karena pernah pas khotbah itu saya pakai seragam PDU, kemudian ada tokoh yang sarankan sebaiknya kenakan jubah, lalu saya jawab, 'Kalau saya pakai jubah, seragam polisinya tidak kelihatan, karena kegiatan saya harus dilaporkan sebagai kegiatan kamtibmas'," tuturnya.


Atas permintaan tokoh agama tersebut, Sardi pun berinisiatif membuat 'jubah' khusus tersebut. Ia lalu meminta temannya yang seorang penjahit di Jakarta membuatkan jubah berwarna cokelat dengan tempelat atribut Polri pada bajunya itu. Sebelumnya, Sardi berceramah menggunakan seragam dinas.


"Jadi kenapa sampai itu inisiatif dari saya sendiri bikin jubah itu, karena ada tokoh yang meminta saya untuk mengenakan jubah kalau sedang ceramah. Saya berpikir dari segi etika tetap (ada) dan dilihat jemaah juga tidak masalah dan Polri-nya tetap ada, kelihatan. Akhirnya saya coba desain sendiri begitu hasilnya. Yang jahit ada teman di Jakarta," katanya.


Namun kemudian Sardi ditegur pimpinannya akibat desain seragam Polri tersebut. Polri sendiri punya Perkap terkait dengan aturan atribut dan seragam Polri.


"Jadi saat itu pada saat dilihat sama pimpinan memang ditegur karena melanggar Perkap," ucapnya.


Ia menyadari kesalahannya itu. Tetapi Sardi tidak bermaksud melanggar peraturan. Ia mendesain jubah itu hanya semata-mata tidak ingin menghilangkan identitasnya sebagai anggota Polri ketika membaur dengan masyarakat saat berceramah.


"Kesalahan saya memang harusnya saya konfirmasi dengan pimpinan dan memang (saya akui) langgar aturan Perkap Kapolri. Tapi tujuannya agar kegiatan itu tetap berjalan dan berbuat kebaikan dan niat saya supaya diterima masyarakat," ungkapnya.

Iklan
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »